September

30

Sebuah desa di bagian Selatan Kota Semarang, memiliki keunikan dalam membuat makanan dengan bahan dasar tape. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari tape, maka desa tersebut dipanggil Desa Tape.

Desa yang sebetulnya bernama Desa Talun Kacang di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati ini memang merupakan penghasil panganan tape singkong.

Belum begitu banyak orang yang mengetahui tentang sejarah Desa Tape ini, karena memang bukan tapelah kuliner yang terkenal di Semarang. Di Talun Kacang ini sebagian besar warganya adalah pembuat tape handal.

Mantan ketua Rw 3 Desa Talun Kacang, Kasmani, mengaku memang warganya ini mendapat warisan cara pembuatan tape dari leluhur mereka.

“Moyang mas yang menurunkan ilmu membuat tape, sampai sekarang ini. Mereka masih menjaga cara bagaimana membuat tape agar nikmat dimakan, selain itu ada rasa khas yang tidak bisa ditiru oleh tempat lain di luar Desa Tape ini. Saya juga nggak tahu mas kenapa bisa beda,” jelas Kasmani yang baru saja menyerahkan jabatannya kepada Kariadi untuk memimpin sekira 150 kepala keluarga di desa ini.

Di Talun Kacang ini, warga membuat tape dengan bahan dasar singkong yang juga mereka tanam sendiri. Seolah desa ini seperti tak pernah tidur. Saki (60), warga sekitar, mengaku proses pembuatan tape memang tidak pernah putus.

“Pagi hari sekira pukul 6, kami berangkat ke kebon singkong untuk mencari singkong yang sudah bisa diolah. Lepas itu kami bersihkan satu persatu, setelah dikupas. Kemudian kami baru kukus selama 1 sampai 2 jam, barulah kami dinginkan,” cerita Saki.

“Setelah beberapa jam didinginkan, menjelang sore kami baru bisa memberi ragi di singkong olahan itu. Setelah itu barulah singkong kami simpan untuk proses peragian hingga tengah malam, untuk kemudian kami bawa ke pasar pada saat Subuh menjelang. Keluarga kami melakukan itu secara bergantian, siapa yang ke kebun dan siapa yang ke pasar, sudah ada tugas masing masing,” tutur Saki yang semua anggota keluarganya saling membantu.

Sawiyah, istri Saki, juga salah satu pembuat tape yang cukup handal. Kini dia sudah mulai membuat berbagai macam makanan ringan dengan bahan dasar tape.

“Saya tidak mau hanya berhenti sampai di tape saja mas, saya ingin membuat jenis makanan lain tetapi yang bahan dasarnya tape. Beruntung ada pihak Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang mau membantu saya dan beberapa warga lain dalam hal pengolahan tape,” kata ibu beranak 4 ini.

“Kami biasanya membuat cake, dodol, trol dan permen tape mas, tapi yang paling laris adalah dodol. Hari raya pesanan dodol tape selalu saja besar jumlahnya. Sayang di Talun Kacang ini tidak banyak warga yang mau membuta makanan dari tape ini, mereka lebih suka membuat tape saja,”sesal Sarwiyah.

Usaha Sarwiyah mengajak tetangga-tetangganya untuk mengolah tape menjadi makanan lain sudah dilakukannya. Biasanya arisan warga dan rapat PKK, tempat dia memberikan pengetahuan tentang pengolahan tape menjadi makanan lain dan sekaligus mengajak mereka untuk membuat usaha sepertinya. Padahal sering kali dirinya mendapat order dalam jumlah besar, namun tidak sanggup memenuhi pesanan karena kurang tenaga.

Diakui oleh Sarwiyah, pihak pemerintah Kota Semarang masih belum benar-benar memberikan bantuan kepada mereka yang mempunyai usaha ini. Bantuan datang justru dari mereka non pemerintah.

Sarwiyah berharap uluran tangan pemerintah dapat mereka terima, bukan saja dalam bentuk uang, tapi mungkin juga dalam bentuk pengadaan peralatan dan pemasaran atau promo.

September

30

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!